Berwisata religi di makam
Syekh Abdul Qohar
di Ngampel, Blora
Tercatat 3 tempat wisata ziarah kubur yang bisa ditemui di Kabupaten Blora. Selain Sunan Pojok (Syaikh Amirullah Abdurrochim) yang lokasinya di tengah Kota Blora dan Situs Janjang dengan makamnya Jati Kusumo dan Jati Swara yang lokasinya di tenggara Kota Blora berjarak belasan kilometer, terdapat juga makam Syekh Abdul Qohar yang ada di Desa Ngampel yang lokasinya di sebelah utara berjarak kurang tak lebih 10 kilometer.
*****
Lorong masuk ke dalam area makam. (Foto: courtesy bloranews.com)
MBAH Aliin adalah ketua RT tempat makam Syekh Abdul Qohar di Desa Ngampel. Ia kerap dimintai tolong para peziarah yang memiliki hajat tertentu. Mulai bayar hutang, jual beli, keluarga, sakit dan lainnya. Tak jarang peziarah rela melakukan aktifitas ziarahnya hingga 41 Jumat berturut-turut. Bahkan dia harus menemani para peziarah hingga tengah malam untuk membantu berdoa. Pernah juga datang peziarah satu keluarga dan minta bantuannya.
Pengakuan Mbah Aliin yang dikutip dari Jawa Pos Radar Kudus (klik di sini untuk beritanya), "Biasanya Dzikir Surat Al Ikhlas 1.000 kali. Tergantung siapa yang mengantarkan untuk ziarah ke Syeh Abdul Qohar. Tapi sebelumnya, kalau mau ziarah mereka telepon terlebih dulu. Sempat ada 13 bus rombongan datang berziarah."
Bangunan makam yang tertutup rapat.
Menurut sejarahnya, Syeh Abdul Qohar merupakan salah satu keturunan Kesultanan Demak, dari garis Joko Tingkir (Raden Hadiwijaya). Urutan silsilahnya menurut sejarah Blora ini adalah sebagai berikut:
Raden Hadiwijaya menikahi putri Sultan Trenggono kemudian lahirlah Sumahadiningrat. Ketika telah dewasa, Sumahadiningrat menikah dan memiliki satu putri dan dua putra. Putri itu bernama Nyai Ageng Malduwut (Kecamatan Rengel Kabupaten Tuban). Dan dua putra masing – masing Syeh Abdul Qohar Ngampelgading dan Kyai Abdullah Mutamakkin Kajen Kabupaten Pati.
Syeh Abdul Qohar, pada masa mudanya memiliki kebiasaan mengembara. Seolah beliau tidak menghiraukan status kebangsawanan Demak yang melekat pada pribadi beliau, perjalanan mengikuti arus sungaipun dilakukan. Sampai suatu ketika, Syeh Abdul Qohar muda bertemu dengan salah satu ulama kharismatik dari desa Tambak Selo, sebuah desa di perbatasan Blora – Rembang saat ini.
Makam Syeh di dalam bangunan yang ditutup kelambu.
Areal dan bangunan makam tampak dari ketinggian.
Dikutip dari berbagai sumber, ulama Kharismatik ini bernama Kyai Nur Faqih yang menyarankan agar jangan selalu mengembara. Melalui proses sejarah yang panjang, akhirnya Mbah KH Abdul Kohar bertempat tinggal di Desa Ngampel. Pembukaan areal ini dimulai dengan babat hutan untuk mendirikan masjid, pondok pesantren sampai akhirnya meninggal dan di makamkan di Ngampel.
Syeh Abdul Qohar sebelumnya meminta saran Kyai Nur Faqih ihwal tempat tinggal untuk menetap dan melakukan syiar agama Islam. Kyai Nur Faqih memberikan sebuah takir ( nasi yang dibungkus daun pisang ) kepada Syeh Abdul Qohar. Kyai Nur Faqih berpesan agar takir tersebut dihanyutkan di sungai, Syeh Abdul Qohar harus menetap di tempat dimana takir tersebut terhenti. Pada akhirnya takir tersebut terhenti di desa Ngampelgading Kecamatan Blora.
Di Ngampelgading, Syeh Abdul Qohar menetap ditemani salah seorang santrinya dari tanah sunda. Tidak lama berselang, Syeh Abdul Qohar menikahi putri Ki Ageng Selo yang bernama Siti Zulaikho dan memiliki dua putri. Putri pertama bernama Siti Tarwiyah menikah dengan Raden Mas Iskandar, Putra Tumenggung Kedu. Putri Kedua bernama Siti Arofah menikah dengan Tumenggung Mayor Tuyuhan Putra Pangeran Sambu dari Lasem, Kabupaten Rembang.
Keilmuannya yang mendalam serta sikapnya yang sangat merakyat membuat nama Syeh Abdul Qohar sangat dihormati. Ia menjadi satu wali atau ulama terkemuka di Kabupaten Blora pada jamannya dan di-ruwat hingga sekarang.