Goa Sentono,
,Keindahan tersembunyi di lembah
Bengawan Solo
Wisata situs Goa Sentono merupakan goa buatan dari batu alam. Terdiri dari tebing batu batu yang alami dan beberapa goa yang terbentuk secara alami ratusan tahun, Goa Sentono menjadi salah satu tempat wisata yang sering dikunjungi wisatawan pada malam hari. Keindahan tersembunyi di sebuah lembah yang tak jauh dari Bengawan Solo.
CAHAYA jingga matahari di sore hari jelang senja menyeruak di atas pepohonan di ujung padangan mata ke arah cakrawala. Cahaya dapat dinikmati di bangku-bangku yang mengelilingi tiang berpayung yang tak jauh dari mulut goa. Bagi kebanyakan orang, berkunjung ke Goa Sentono waktu yang tepat adalah sore hari jelang senja. Lalu bagi sebagian yang lain, waktu akan berlanjut hingga malam hari. Mereka akan merangkainya dengan melakukan doa di malam hari hingga pagi hari menjelang Subuh.
Wisata situs Goa Sentono merupakan goa buatan dari batu alam yang dijadikan sebagai tempat semedi atau pertapaan umat Hindu pada zaman dulu. Keadaan ini dapat terlihat dengan adanya relief atau gambar yang ada di dinding goa, yang merupakan dewa agama Hindu.
Andi Winata dari Komunitas Bumi Budaya Kecamatan Kradenan mengatakan, untuk memperkenalkan potensi situs budaya Goa Sentono yang kaya akan nilai-nilai sejarah kepada masyarakat luas, tiap tahunnya digelar Festival Sentono yang kerap dimeriahkan dengan kirab gunungan.
Festival merupakan acara goyong royong warga di Kecamatan Kradenan untuk bersama-sama mengangkat potensi daya tarik wisata Goa Sentono. Biasanya akan berlangsung selama empat hari dengan sejumlah agenda, antara lain: kirab gunungan dan tari gambyong massal yang disusul malam harinya ada jagong budaya dan pelepasan sentir tradisional di Bengawan Solo.
"Ini pernah kita lakukan pada 2019," katanya.
Sayangnya di 2020 lantaran pandemi festival ini ditiadakan.
Blacak Ngilo adalah bekas prajurit Majapahit yang melarikan diri disaat terjadi perang saudara memperebutkan kekuasaan atau perang paregreg.
Tari (50) salah satu warga Dukuh Sentono menjelaskan bahwa pada mulanya padepokan yang dipimpin Blacak Ngilo ini sangat termasyur, sehingga banyak orang berbondong-bondong ke Sentono untuk nyantrik dan berguru ke Blacak Ngilo.
“Dengan arif dan bijaksana Blacak Ngilo mengajarkan berbagai macam ilmu, mulai dari cara bercocok tanam,budi pekerti, spiritual dan olah kanuragan. Banyak yang tertarik dan bersimpati terhadap Blacak Ngilo,” beber Tari.
Daerah Sentono sendiri terletak di tepi aliran Bengawan Solo, sehingga strategis untuk pertanian. Tak mengherankan jika Sentono dan sekitarnya mengalami perkembangan yang luar biasa hebat. Bahkan Blacak Ngilo oleh para pengikutnya diperlakukan bak seorang Raja.
“Namun lama-kelamaan sifat Blacak Ngilo mulai berubah. Dia mulai sewenang-wenang terhadap para pengikutnya. Masyarakat diharuskan untuk menyetorkan separoh lebih dari hasil panennya. Tak hanya itu, dia juga memerintahkan kepada seluruh rakyatnya yang mempunyai anak perawan agar dipersembahkan untuk di jadikan selirnya. Rakyat mulai resah, apalagi setiap malam bulan Purnama harus disediakan darah segar manusia untuk di jadikan tumbal untuk menambah kesaktiannya. Sehingga perlawanan pun mulai terjadi,” lanjut Tari.
Menurutnya, keresahan masyarakat disaat itu sampai terdengar oleh Sunan Bonang. Kemudian Sunan Bonang yang berada di pesisir utara Jawa mengutus salah seorang santrinya untuk menemui Blacak Ngilo di Sentono yang intinya mengingatkan agar tidak lagi sewenang-wenang terhadap rakyatnya, jangan menyembah berhala dan mengikut ajaran Islam dengan lurus dan benar.
“Mendengar perkataan utusan tadi, Blacak Ngilo murka, ditebasnya leher utusan Sunan Bonang sampai putus. Tempat pemenggalan leher utusan Sunan Bonang ini sampai sekarang di abadikan menjadi sebuah desa bernama Pangulu, berasal dari kata Penggal Gulu (Penggal Leher), desa yang berada di seberang Bengawan Solo dari Goa Sentono, masuk wilayah Kec. Margomulyo, Kab.Bojonegoro, Jatim,” lanjut Tari.
Merasa di remehkan, kemudian Blacak Ngilo tidak terima, dia mengirimkan surat tantangan kepada Sunan Bonang agar datang berhadapan dengan dirinya untuk adu kesaktian. Sunan Bonang menyanggupinya, tetapi Sunan Bonang minta beberapa syarat, apabila Sunan Bonang kalah dalam pertarungan, beliau rela menjadi pengikut Blacak Ngilo , dan sebaliknya apabila Blacak Ngilo yang kalah, Blacak Ngilo harus meninggalkan semua perbuatan-perbuatan buruknya dan harus masuk Islam. Kedua belah pihakpun menyetujui perjanjian tersebut.
Temukan di Google Maps
*****