Sepanjang 2 bulan, November-Desember 2020, Desa Wisata Institute yang bermarkas di Yogyakarta yang merupakan lembaga pendampingan dan pelatihan SDM desa wisata melatih dan mendampingi 2 desa di Blora--yakni Desa Bangsri di Kecamatan Jepon dan Desa Bangowan di Kecamatan Jiken. Sebuah ikhtiar untuk pengembangan desa wisata di Kabupaten Blora.

BELASAN pegiat wisata dari dua desa sedang fokus mendengarkan paparan materi dari Destha Titi Raharjana, salah satu mentor dari Desa Wisata Institute—tentang mereka klik di sini. Akrab dipanggil Desta--diplesetkan kependekan dari desa wisata--pria yang memosisikan diri sebagai teman dari masyarakat desa itu mencoba menggali ide-ide dan potensi yang bisa diangkat sebagai daya tarik wisata di Desa Bangsri. Menurutnya Kampung Pelangi yang telah ada memang produk wisata. Namun satu produk saja tidak cukup. Perlu tambahan-tambahan produk wisata yang bisa dikemas dalam paket. Melibatkan antar pedukuhan atau pedusunan, bahkan lintas desa, paket wisata bisa menjadi produk pola perjalanan wisata.
Dengan varian produk wisata yang tak hanya satu tempat wisata, pengunjung akan memiliki tambahan tujuan wisata di desa tersebut.
Penggalian ide dari potensi wisata yang bisa diciptakan ataupun direkayasa menjadi bahasan menarik untuk disimak. Tidak sekedar teori-teori dalam pemasaran dan manajemen wisata, penggalian ide dinarasikan dari berbagai pengalaman dan perjalanan dari pemateri itu sendiri. Dari pengalaman dan perjalanan itulah ide-ide ditawarkan. Ada juga ide yang muncul dari pengumpulan informasi bacaan-bacaan.
Hari itu, Minggu, 8 November 2020 adalah hari pertama untuk penyampaian materi yang diampu mentor-mentor yang memiliki pengalaman panjang dalam menciptakan desa wisata di daerah asal masing-masing, kecuali Desta yang berasal dari akademisi. Malam sebelumnya mereka menginap di salah satu rumah warga Desa Bangsri yang menjadi homestay, yang bagi beberapa orang dari Desa Wisata Institute meninggalkan kesan yang berbeda meski tiada penerangan listik yang cukup di rumah tersebut. Mereka sengaja memilih untuk tinggal dan berbaur dengan masyrakat dari desa yang hendak mereka dampingi untuk lebih memperdalam informasi melalui diskusi-diskusi informal.
Sehari sebelumnya mereka telah menggelar focus discussion group (FDG) dengan belasan desa yang telah ataupun berproses menjadi desa wisata di Kabupaten Blora. FDG digelar oleh Bappeda Kabupaten Blora. Usai FDG, mereka difokuskan untuk menggarap 2 desa dengan pendampingan langsung.
Pendampingan dengan metode penyampaian paparan dan diskusi kelompok dilangsungkan selama 2 hari: hari pertama di Desa Bangsri, dan hari berikutnya di Desa Bangowan. Setelah paparan materi, peserta akan dituntut untuk menggali ide-ide pengembangan wisata yang didiskusikan per kelompok. Ide harus dilanjutkan dengan mewujudkannya menjadi varian produk wisata dari yang sudah ada. Selama mewujudkan produk varian tersebut, tim dari Desa Wisata Institute akan bergantian mendampinginya hingga beberapa pertemuan lagi sampai akhir tahun 2020.
Untuk membuka saluran ide dan gagasan, Ir. Doto Yogantoro—salah seorang mentor yang oleh kawan-kawannya dikenal sebagai Arsitek Desa Wisata Indonesia membagi pengalamannya selama 3 tahun mendirikan dan belasan tahun membangun desa wisata di desa kelahirannya. Tentang Ir. Doto ini dapat diikuti di sini.
Pengalaman Ir. Doto ini cukup unik saat mendirikan desa wisata. Tantangan terberatnya ada di mengubah mindset (pola pikir) dari masyarakat di desanya. Mengubah pola pikir ini membutuhkan waktu tak kurang dari 3 tahun untuk membentuknya. Diperlukan kesabaran, ketekunan, dan semangat untuk tidak pantang menyerah.
Di tahun pertama, seingat Ir. Doto yang memulai mendirikan desa wisata pada 2005, sama sekali tidak ada kunjungan ke desanya yang ia telah menata rumahnya sebagai homestay. Untuk menghindari cibiran dari tetangga dan lingkungannya, Ir. Doto tak kurang akal. Ia pacaki teman-temannya sebagai tamu untuk berdatangan ke desanya. Ia juga meminta bantuan dari pemerintah daerah setempat untuk pejabatnya di dinas terkait pariwisata mau bertamu ke desanya.
Tiga tahun pertama adalah tahun-tahun yang sulit bagi Ir. Doto untuk mendirikan desa wisata di desanya, Desa Pentingsari di Kabupaten Sleman. Namun pengalaman buruk di masa silam yang nyaris menghabiskan warisan tanah dari mbah-mbah-nya membuatnya tetap bertahan. Ia tak ingin mewariskan kemiskinan ke anak-anaknya dan generasi berikutnya. Pola pikir lawas yang mengharuskan menjual aset untuk menempuh pendidikan tinggi harus digeser dengan merawat aset untuk menghasilkan rupiah. Kini, setelah belasan berlalu miliaran rupiah bisa ia kantongi dalam sebulan.
Tak hanya ia sendiri yang menikmati kekayaan wisata ini. Tetangganya, teman, sanak kerabat yang terkait dengan wisata di desanya turut menikmati kekayaan tersebut. Pemerataan ekonomi terwujud dalam lingkungan sosial di desanya.
Pemerataan terus berlanjut. Ia dan beberapa pegiat desa wisata di Yogyakarta terhimpun untuk mendirikan Desa Wisata Institute, merupakan lembaga pendampingan dan pelatihan SDM desa wisata yang didirikan pada 2019. Desa Wisata Institute didirikan dengan tujuan mengawal perjuangan desa-desa di Indonesia untuk mencapai kemandirian melalui pengembangan dan pemanfaatan potensi desa.
Mengutip dari sini, pendirian Desa Wisata Institute juga digawangi oleh para praktisi dan akademisi desa wisata berpengalaman. Desa Wisata Institute juga berkomitmen terhadap pariwisata berkelanjutan, di mana kegiatan kami mengedepankan keterlibatan masyarakat lokal untuk secara aktif dalam perencanaan, pengambilan keputusan, pelaksanaan pembangunan, dan penerima manfaat proses pembangunan pariwisata.
Kini tantangan diterima mereka untuk menghidupkan 2 desa wisata di Kabupaten Blora. Semangat.

