Manganan Njanjang,

wisata tradisi dari Desa Janjang di Kecamatan Jiken

Manganan Janjang menjadi salah satu daya tarik wisata budaya tahunan di Kabupaten Blora. Bertempat di areal pemakaman Eyang Jatisuwara dan Eyang Jatikusuma di Desa Janjang, Kecamatan Jiken tradisi ini digelar. Ribuang pengunjung memadatinya.

*****

manganan_janjang-banner_01
?????????????????????????????????????????????????????????

RIBUAN masyarakat tumpah ruah di  acara tradisi tahunan Manganan Njanjang di Desa Janjang Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora. Ini yang merupakan salah satu potensi wisata budaya di Kabupaten Blora. Serangkaian acara dalam rangka Manganan Janjang sebagai wujud rasa syukur masyarakat desa kepada Sang Maha Pencipta telah diawali dengan acara pengajian akbar Haul Eyang Jatisuwara dan Eyang Jatikusuma.


Manganan Janjang merupakan sebuah upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Janjang, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora. Upacara Manganan Janjang dilaksanakan setiap tahun sekali pada bulan Sapar (tahun Jawa) pada hari Jumat Pon. Lokasi upacara berada di Makam Jati Kusumo dan Jati Swara.


Tradisi ini berakar dari Kerajaan Jipang Panolan pada akhir masa pemerintahan Arya Penangsang. Perjalanan Pangeran Jati Kusumo dan Pangeran Jati Swara dalam usaha untuk menemukan pusaka yang hilang sampai di suatu daerah yang yang bernama Janjang dan kedua pangeran menetap di desa tersebut sambil mengajarkan pengetahuan tentang hidup dan kehidupan kepada masyarakat sekitar. Oleh karena itu untuk menghormati kedua pangeran yang merupakan tokoh-tokoh yang sangat dihormati masyarakat Jenjang, diadakanlah sebuah upacara sebagai bentuk penghormatan terhadap kedua pangeran.


Di samping itu juga untuk permohonan agar kehidupan masyarakat Janjang sejahtera dan tidak terkena musibah maupun terbelit masalah yang serius. Hal itu tampak dari simbol-simbol yang dalam dalam upacara Manganan Janjang. Manganan Janjang selalu menampilkan pertunjukan wayang krucil yang merupakan simbol leluhur desa dan abdi dalemnya yakni Kiai Brajat, Kai Kuripan, Nyai Sekintir, Semar, dan Blentik.


Dalam pelaksanaan Manganan Janjang, kegiatan dimulai sejak Jumat pagi hingga sore hari di makam Pangeran Jati Kusuma dan Jati Swara. Masyarakat datang ke makam membawa nasi urap, tumpeng bucu, dan ayam panggang, kemudian makanan tersebut dijadikan satu didalam sebuah tempat. Pada saat itu ada pertunjukan wayang krucil. Selain itu juga ada prosesi melepaskan ikatan ketupat luwar yang berisi beras kuning dan uang receh. Melepaskan ikatan itu harus dalam satu tarikan.


Terurainya ketupat merupakan simbol terlepasnya seseorang dari masalah. Seusai pertunjukan nasi dan urap yang semula dijadikan satu kemudian dibagikan kepada warga Janjang dan para pengunjung. Warga Janjang juga membagi bagi atau menaruh nasi urap ke dalam tampah untuk dimakan bersama sama. Warga dan para pengunjung juga mendapat pembagian air dari gentong atau guci peninggalan leluhur.


Upacara Manganan Janjang itu oleh masyarakat Janjang juga dipercaya membawa pesan terselubung atau ramalan tentang keadaan masyarakat Janjang di waktu yang akan datang. Apabila nasi yang dibagikan kurang maka menandakan akan ada masa paceklk yang melanda Janjang. Apabila daun jati yang dipakai untuk membungkus nasi juga kurang maka itu menjadi pertanda bahwa harga tembakau akan mahal. Apabila yang kurang adalah air gentong maka Desa Janjang akan terkena kemarau panjang.

*****