Menanti senja di
Waduk Tempuran
Bagi sebagian kaum muda dari kota, Waduk Tempuran bisa menjadi tempat tujuan menghabiskan sore untuk menanti datangnya senja sambil menikmati secangkir kopi. Sementara bagi penikmat mancing, Waduk Tempuran menjadi tempat tujuan untuk menghabiskan waktu di kala senggang. Sedangkan bagi happy family, Waduk Tempuran yang berderet rumah makan bisa menjadi tujuan menikmati santap siang di luar rumah. Tapi bagi anak-anak remaja yang ingin menekuni olahraga dayung, Waduk Tempuran adalah tempat yang tepat untuk berlatih.
***
SEKELOMPOK anak-anak muda sedang duduk-duduk menghadap hamparan air memanjang di suatu sore. Sambil menikmati pemandangan waduk berbatas cakrawala, mereka terlihat bersendau gurau. Beberapa gelas kopi yang dipesan dari warung kopi tak jauh dari tempat mereka nongkrong menemani ngobrol hangat mereka. Sementara tampak di tengah danau seseorang sedang mengayuh dayungnya.
Pemandangan ini kerap dijumpai di Waduk Tempuran, waduk tertua di Kabupaten Blora. Dapat ditempuh dari Kota Blora menuju Rembang berbelok ke timur di perempatan Medang yang kurang lebih 7 kilometer dari Kota Blora, waduk ini dibangun 12 tahun sebelum lahirnya Sumpah Pemuda pada 1928.
Bagi sebagian mereka yang ingin menikmat tenggelamnya sang surya, Waduk Tempuran bisa menjadi pilihan untuk dikunjungi. Meski tidak merupakan perbukitan, Waduk Tempuran letaknya ada di ketinggian di antara sawah-sawah pedesaan. Tenggelamnya sang surya dapat dinikmati dari sini. Mereka yang menghabiskan sore hingga datangnya senja, seringkali mendapati pemandangan yang eksotik dari ufuk barat dengan sinar mentari yang tidak terlalu silau. Inilah spot foto yang cukup menarik untuk diambil.