Mengenal Kerukunan Sedulur Sikep di Blimbing
Punya Ritual Sembahyang,
Adat Pernikahan,
dan Lebaran Suro
Mereka menamakan diri Paguyuban Kerukunan Sedulur Sikep. Mereka tinggal di Dukuh Blimbing, Desa Sambongrejo, Kecamatan Sambong. Mereka penganut kepercayaan Samin yang mengamalkan ritual dan ajaran-ajarannya.
*****
ATMOKO Seno tengah bersiap berangkat kerja siang itu. Ia dapat giliran dinas siang di RSUD Cepu. Sementara istrinya, Kristianti, sudah berangkat kuliah di Universitas Terbuka di Bojonegoro beberapa jam lalu. Mereka baru 2 tahun ini menjalani kehidupan rumah tangga, dan masih tinggal dengan orang tua Kristianti yang tinggal di Dukuh Blimbing, Desa Sambongrejo, Kecamatan Sambong, tak jauh dari Pendopo Paguyuban Kerukunan Sedulur Sikep Dukuh Blimbing.
Seno, panggilan sehari-hari Atmoko Seno, sebelumnya adalah warga Kelurahan Cepu, Kecamatan Cepu. Ia menikahi Kristianti yang merupakan warga Dukuh Blimbing, Desa Sambongrejo, Kecamatan Sambong. Mereka bertemu di Semarang, saat masih sama-sama berkuliah di Semarang.
"Istri saya sebelum kuliah di UT Bojonegoro, dulunya sudah kuliah di Semarang," kata Seno.
Mereka menikah dengan cara Islam, dan tidak melajutkan dengan pernikahan adat Samin.
"Kami hanya menikah dengan cara Islam. Istri saya pun tetap menjalankan rukun Islam, dan itu (saya ketahui) sejak kuliah," ujar Seno.
Anak-anak yang dibesarkan di lingkungan adat kepercayaan Samin tak diharuskan untuk melakukan ritualitas yang biasa dilakukan penganut Samin. Ritualitas itu seperti dikatakan Yatmo, salah satu Pemuka Adat, antara lain pernikahan adat.
"Pernikahan adat Samin dilakukan dengan menghadirkan pemuka-pemuka adat dan para sesepuh. Pernikahan bisa dilakukan di rumah orang tua pengantin atau di pendopo ini. Yang menikahkan orang tua pengantin, dengan saksi pemuka adat dan sesepuh. Setelah dinikahkan, kami di pemuka adat akan mengurus surat-surat pernikahan di kantor catatan sipil pemerintah," tutur Mbah Mo, panggilan Yatmo, yang merupakan Pemuka Adat III di Paguyuban Kerukunan Sedulur Sikep Dukuh Blimbing, Sambongrejo.
Menurut Mbah Mo, dari 80 persen jumlah penduduk Desa Sambongrejo yang merupakan penganut kepercayaan Samin, sebagian besar memang akan menikahkan anak-anaknya dengan pernikahan adat.
"Tapi (di lingkungan sosial) kami juga tidak ada tekanan untuk menikahkan anak-anaknya dengan adat Samin. Namun bagi penganut kepercayaan Samin, menikah secara adat akan lebih terasa kemantapannya," ujar Mbah Mo.
Dalam acara pernikahan, juga akan ada yang namanya brokohan. Ini sebutan untuk kenduri, atau hajatan. Bedanya, brokohan ini masih memegang tradisi hajatan dengan tumpengan. Tidak tersentuh hajatan modern yang menggunakan prasmanan, brokohan akan menyediakan tumpeng sesuai dengan undangan.
"Jika mampu, brokohan akan menghadirkan ratusan undangan dengan jumlah tumpengan yang sesuai dengan undangan yang ada," kata Mbah Mo.
Menu brokohan tak beda dengan hajatan atau kenduri pada umumnya. Ada bumbu-bumbunya. Tak lupa ada hidangan daging yang disesuaikan kemampuan. Standarnya ayam. Namun bagi yang mampu bisa kambing atau sapi.
"Brokohan ini," kata Mbah Mo saat berbincang di Pendopo Paguyuban Kerukunan Sedulur Sikep, "akan ramai pada bulan Suro (Muharram)."
Inilah lebarannya penganut kepercayaan Samin. Hampir tiap hari akan ada yang mengadakan brokohan.
Ritual lainnya yang dikerjakan penganut kepercayaan Samin adalah sembahyang di pagi dan sore atau malam hari. Jarak antara sembahyang pagi dan sore berselisih 12 jam. Jika di pagi dikerjakan jam 6 pagi, maka di sore hari dikerjakan di jam 6 sore. Semua sembahyang dikerjakan di luar rumah, atau tanpa terhalang atap.
"Sembahyang pagi dikerjakan dengan menghadap timur, sementara sembahyang sore (atau malam) dikerjakan dengan menghadap barat," tutur Mbah Mo, panggilan Yatmo, sembari memperagakan cara-cara sembahyang penganut kepercayaan Samin.
Sembahyang yang dikerjakan penganut kepercayaan Samin adalah dengan cara jongkok, lalu menyembah dengan menempelkan dua telapak tangan yang diangkat hingga di hadapan wajah.
"Menyembahnya sebanyak 3 kali," ujar Mbah Mo yang kelahiran tahun 1960 ini.
Setelah menyembah, lalu berdiri menyedekapkan tangan. Semua gerakan dikerjakan dengan keadaan hening dan terfokus di pemohonan-permohonan kepada Sang Pencipta. Jika ada permohonan yang berlebih, ada sembahyang khusus yang dikerjakan di tengah malam.
"Sembahyang tengah malam cara-caranya sama. Dikerjakan jam 12 malam dengan menghadap ke timur," kata Mbah Mo yang merupakan cucu dari Suro Kuncung ini.
Ritual sembahyang penganut kepercayaan juga dikerjakan generasi muda warga setempat. Salah satu generasi muda yang menganut kepercayaan ini adalah Puji Riyandandi yang kelahiran tahun 1993. Anak kedua dari Pramugi Prawiro Wijoyo ini tiap hari rutin mengerjakan sembahyang. Dulunya, sewaktu sekolah ia juga mengerjakan sholat, sembahyangnya penganut agama Islam. Maklum, saat bersekolah ia menerima pelajaran agama Islam.
"Tapi selepas lulus, saya berhenti sholat," kata Puji yang lulusan SD di desa setempat tersebut.
Para orang tua, kata Mbah Mo, memang tak pernah memintakan ijin untuk anak-anaknya agar tak ikut dalam pelajaran agama di sekolah-sekolah. Karenanya para orang tua penganut kepercayaan Samin membiarkan anak-anak mereka menerima pelajaran agama yang diajarkan di sekolah. Dari menerima pelajaran agama di sekolah itulah, tak sedikit anak penganut kepercayaan Samin yang meninggalkan ritual-ritual seperti pernikahan adat atau sembahyang.
"Kami tak pernah menolak sebab kami juga tak ingin bertikai. Bagi kami yang terpenting adalah ajaran-ajaran Samin yang kami inginkan tetap ada di anak-anak kami," kata Mbah Mo.
Tak ada penolakan ini yang juga dirasakan Seno, warga pendatang yang menikahi anak penganut kepercayaan Samin.
"Kalau mertua masih (ritual sembahyang). Tapi saya dan istri, sembahyangnya dengan cara Islam. Bagi kami yang penting rukunnya," kata Seno.
Tak ingin pertikaian dengan selalu hidup rukun adalah salah satu ajaran Samin.
***
Anak-anak penganut kepercayaan Samin. Diberikan kebebasan untuk menjalankan atau tidak menjalankan ritual sembahyang.
Pramugi Prawiro Wijoyo, sesepuh dari Peseduluran Samin di Dukuh Blimbing menjalani rutinitasnya dengan salah satunya budidaya perikanan.
Kaum perempuan sedang bernyanyi menggunakan iringan lesung.
Kaum perempuan di sini juga memiliki keterampilan membatik.
Kegiatan membatik menjadi kebiasaan yang mengasyikan bagi kaum perempuan di pedukuhan samin ini.
Jamuan makan bersama dalam sebuah acara.