Warna-warni
Kampung Pelangi
di Desa Bangsri, Jepon
Untuk mengubah taraf hidup masyarakatnya, seorang kepala desa menggagas pengembangan pariwisata di desanya. Mengadopsi daerah lain dengan wisata muralnya, kampung pelangi tercipta di salah satu pemukiman di desa tersebut. Ikhtiar panjang untuk memajukan kesejahteraan umum di warga masyarakat Desa Bangsri di Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora.
RUMAH Bu War tidaklah jelek untuk ukuran masyarakat desa, namun juga tidak tergolong mewah seukuran yang sama. Lantai sudah berubin, dinding juga bertembok cat biru terang. Ada jendela kaca berkayu pelituran.
Namun ada yang tidak biasa bagi ukuran umum. Antara pintu rumah dan jendela kaca ada gambar besar hasil mural, yakni lukisan yang menggunakan tembok sebagai mediumnya. Wajah anime laki-laki yang menempel di dinding tembok itu menjadi lukisan yang terpampang di belakang papan nama gantung bertuliskan kerupuk sambel—barang dagangan yang dijual Bu War.
Anime (juga manga idol) adalah kategori media fiksi di Jepang. Dapat dijumpai di film-film kartun animasi Jepang yang diputar media televisi Indonesia, Naruto sebagai contohnya.
Tidak hanya rumah Bu War yang dibikin mural. Hampir semua rumah warga di RT. 01/RW. 01 Desa Bangsri dilukis dinding-dinding rumahnya. Obyek gambar beraneka ragam. Ada tokoh anime juga gambar-gambar kartun, tak sedikit yang tokoh-tokoh nasional—seperti Mbah Hasjim Asy'ari, pendiri NU; juga ada Kyai Mustofa Bisri.
Kreasi ini mulai bergulir usai lebaran 2019. Gagasan membuat obyek wisata spot foto di desa yang berjarak 5 kilometeran dari Kota Blora muncul dari kepala desanya, Laga Kusuma. Gagasan muncul dari tanggung jawab untuk memajukan kesejahteraan umum di wilayah yang dipimpinnya, sebagaimana tercetus dalam konstitusi tentang tujuan dibentuknya Pemerintahan Negara Indonesia. Gagasan lalu direlasikan ke perangkat desanya untuk mendapat daya dukung dari pemerintahannya terlebih dulu sebelum diwacanakan ke publik desanya. khususnya ke warga yang wilayahnya dijadikan obyek wisata.
Gagasan lalu dilempar ke publik melalui rembug warga. Kemudian dimatangkan konsepnya sebelum mulai dikerjakan. Semua biaya akan ditanggung dari pemerintahan desa. "Konsep kampung pelangi ini merupakan program yang saya janjikan kepada warga untuk menjadi kampung wisata, ketika saya maju menjadi kades. Tutup buku bulan Agustus 2020 kita berhasil mendatangakan Pe-A-Des sebesar Rp 70 Juta," kata Laga Kusuma kepada Febrian Chandra dari detikTravel. Selengkapnya dapat dibaca di sini.
Gebyar dibuat saat pertama kali memasarkan wisata Kampung Pelangi Desa Bangsri. Mulai dari mendatangkan pejabat untuk pembukaan obyek wisata, hingga menampilkan dalang Sigit Ariyanto untuk menyedot pengunjung. Tak heran jika nama obyek wisata tersebut menjadi cepat populer dan menarik minat wisatawan lokal Kabupaten Blora untuk datang berkunjung. Apalagi tak hanya obyek spot foto yang dijual, tapi juga adanya wahana bermain anak yang bisa menjadi tujuan saat mengajak anak-anak berwisata di sana. Ada pemandian yang bisa dipakai anak-anak memulai belajar berenang, ada pula rumah boneka yang bisa dipakai anak bersendau gurau dengan saudara atau teman-temannya. Ada pula gubuk ketinggian yang letaknya bersandar di pohon dengan tinggi tak kurang 2,5 meter untuk menaikinya. Berukuran tak lebih 2 kali 2 meter, disediakan tangga untuk mencapainya. Seringnya digunakan anak-anak yang punya nyali memanjat.
Sementara untuk para lelaki penikmat kopi santan, ada warung yang menyediakan sambil menunggui anak-istri menikmati warna-warni perkampungan. Sedangkan bagi para penikmat olahraga sepeda santai, tak sedikit kedai minum yang dijadikan persinggahan melepas penat.
Video liputan Kampung Pelangi di Pedukuhan Bangsri, Desa Bangsri, Kecamatan Jepon.










