Dari pesangon menjadi

Kebun Wisata Hidroponik

Belum genap bekerja 3 tahun di sebuah perusahan tambang yang kerja sama operasinya dengan Pertamina, Indra Karyanto banting stir menekuni dunia baru; dunia hidroponik. Berbekal Rp300 juta ia mengubah lahan 20x40 meter persegi untuk dibangun green house 10x21 meter. Kelak green house ini menjadi ikon wisata hidroponik di Kabupaten Blora.

hidroponik_banner-opening

DARI 4 tahun berjalan di 2020 sejak ia banting stir dari 2017, kesan mendalam yang ia dapati setelah menekuni pekerjaan petani hidroponik adalah saat dapat kunjungan dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Kunjungan ini terjadi pada akhir tahun 2017, di minggu terakhir tahun itu. Bagi Indra yang telah me-mapankan usaha hidroponiknya di tahun ke-4, kunjungan Ganjar akan menjadi kenangan dalam rintisannya mengembangkan dunia usaha pertanian hidpronik dari kampung halamannya. Harapannya dari kampung halamannya bisa menyebar ke kampung-kampung yang lain, yang pada ujungnya akan menjadi potensi ekonomi kerakyatan bagi penduduk di Kabupaten Blora. Kini rintisan usaha hidroponik tak sekedar produk barang berupa hasil-hasil pertanian hidroponik namun juga produk jasa berupa wisata edukasi yang memberikan pengetahuan secara terbuka kepada pengunjung.

Rintisan untuk menekuni dunia pertanian hidroponik sebetulnya sudah jauh hari ia siapkan. Dari halaman media sosialnya di facebook, di Agustus 2016 ia mulai melangkah untuk bersentuhan dengan dunia hidroponik. Ia menulis, "Semoga bisa menjadi langkah awal menuju kesuksesan." Tulisan itu menjadi keterangan dalam unggahan gambar Gathering Hidroponik Nasional di Malang pada 27-28 Agustus 2016.

Langkah sudah mantap saat ia diberhentikan dari perusahaannya. Berbekal pesangon yang ada ia mulai berbelanja lahan yang ia dapat tak jauh dari tempat tinggalnya di Perumahan Cepu Asri di Desa Pojokwatu di Kecamatan Sambong.


Lahan yang ia dapat ada di Desa Gadu di kecamatan yang sama. Jarak tempuhnya tak lebih 1,5 kilometer dari Jalan Blora-Cepu di Pasar Sambong.


Lahan tidak terlalu luas, tak lebih 20 meter kali 40 meter. Ia hitung-hitung, lalu didirikan bangunan yang akan dipakai untuk bertani hidroponik. Bangunan tidak terlalu luas, sekitar 10 meter kali 21 meter. Bangunan ini cukup untuk bertani hidroponik. Dari 36 lubang di awal saat coba-coba lalu berkembang jadi tak kurang 10 ribu lubang siap tanam.


Kini, setelah berjalan lebih dari 2 tahun, kebunnya selain sebagai lahan produksi sayur-sayuran juga ia jadikan sebagai tempat berbagi pengetahuan tentang hidroponik sekaligus berwisata. Pengunjungnya tak hanya dari kalangan dewasa tapi juga dari anak-anak yang oleh gurunya dikenalkan kebun sayur-sayuran sejak dini. Salah satu kunjungan wisata edukasi untuk anak-anak ini datang dari PAUD IT Mutiara Insan Cepu pada November 2017, seperti tampak dalam gambar di sebelah (bawah).

hidroponik_banner-02
hidroponik_produk-01
hidroponik_produk-02
Untuk mencapai hasil maksimal diperlukan perjuangan. Yakn: perjuangan menciptakan sayuran yang baik dan layak konsumsi, dan perjuangan menciptakan pasar.

Temukan di Google Maps

Lanjut Jelajah & Plesiran