Berkunjung ke Rumah Artefak Blora

“Rumah artefak itu, sejatinya embrio berdirinya Museum Blora. Di rumah artefak ini, tersimpan sekitar 200 benda cagar budaya dari empat peradaban. Mulai prasejarah, masa klasik Hindu-Budha, masa kerajaan Islam, hingga masa kolonial”

Slamet Pamudji - Kepala Dinporabudpar Kabupaten Blora

Terdorong dari pengabdian yang tiada putus untuk pelestarian benda-benda bersejarah, Rumah Artefak Blora menjadi ikhtiar dalam menjaga informasi masa silam untuk pengetahuan masa mendatang. Embrio museum yang masih bertahan di GOR Mustika Blora sisi timur.

RUANGAN-ruangan yang ada di sisi timur GOR Mustika Blora itu jauh dari keramaian. Apalagi pintu gerbang masuk ke areal GOR yang difungsikan hanyalah pintu sebelah barat. Sementara pintu sebelah timur lebih sering terkunci. Kalaupun terbuka, hanya bisa dilalui orang dengan meloncat. Otomatis tak begitu banyak yang tahu jika di sisi timur bangunan megah GOR tersembunyi Rumah Artefak Blora, yakni tempat menyimpan dan memajang benda-benda bersejarah.


Luasan rumah sepertinya belum memadai untuk menyimpan ratusan hingga ribuan benda-benda bersejarah. Luas ruangan untuk memajang benda-benda tersebut tak lebih luas dari ruangan kelas SD yang muridnya 30-an anak. Jadinya hanya benda-benda yang dipandang memiliki fenomena tersendiri yang dipajang. Salah satunya adalah fosil gading gajah yang ukurannya besar-besar. Benda ini bahkan dibuatkan etalase untuk menyimpannya,biar lebih terawat dan dijauhkan dari debu.


fosil_gajah

Fosil gading gajah yang tersimpan dalam etalase. Menjadi pajangan utama yang dipamerkan di rumah artefak ini.

Kebanyakan benda berasal dari temuan masyarakat yang diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten, yang selanjutnya tak hanya dirawat namun diteliti. Pemerintah Kabupaten telah memiliki peneliti di bidang arkeologi. Peneliti ini tak jarang mendapat dukungan dari peneliti-peneliti lain dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah dan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMP) yang berkantor di Sragen. Balai yang terakhir disebut merupakan unit pelaksana teknis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di bidang pelestarian situs manusia purba yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Kebudayaan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

fosil_gajah_gading

Fosil gading gajah purba, tampak dari dekat.

Bertahan di ruangan yang tidak terlalu luas, Rumah Artefak Blora sejak dibuat pada pertengahan 2019 mampu menyedot perhatian anak-anak sekolah di Kabupaten Blora. Bersama guru sejarah sebagai pembimbing, mereka datang berkunjung ke rumah tersebut. Silih berganti dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain, petugas di Rumah Artefak hampir tiap seminggu sekali menerima kunjungan. Kadang seminggu bisa lebih dari sekali. Lebih sering yang berkunjung dari anak-anak setingkat SMA, tak hanya sekolah negeri namun juga swasta.


Dari tingginya kunjungan membuat Pemerintah Kabupaten lantas menggagas adanya museum yang bisa dijadikan wisata edukasi tentang sejarah dan arkeologi.


"Rumah artefak itu, sejatinya embrio berdirinya Museum Blora," kata Pak Mumuk, sebutan akrab Kepala Dinporabudpar. Pernyataan selengkapnya bisa dilihat di sini.

“Saya mengapresiasi, senang, dan ayem berada di rumah artefak Blora. Melihat beragam benda cagar budaya yang tersimpan ini, sewajarnya Pemkab Blora segera menganggarkan”

Dr. Wahjudi Winarjo, M.Si ~ Sosiolog Universitas Muhamadiyah Malang

Benda-benda bersejarah yang tersimpan dalam rumah itu hampir komplit, berasal dari berbagai sejarah dan peradaban yang pernah ada di wilayah administrasi Kabupaten Blora. Mulai dari pra-sejarah (pra-aksara), klasik Hindu-Budha, Islam hingga jaman Hindia Belanda.


Di wisata edukasi pengetahuan sejarah ini, pengunjung akan memperoleh pengetahuan tentang siapa orang asli Blora yang pernah ada dan hidup di atas tanah Blora di jaman dahulu kala. Koleksi bekal kubur yang ada di Rumah Artefak tersebut akan membuka pengetahuan baru bagi pengunjung tentang penduduk asli Blora. Bekal kubur ini diantaranya berupa manik-manik, alat rumah tangga, juga senjata logam. Temuan bekal ini didapat dari bekas-bekas penggalian Kubur Kalang di berbagai tempat di Blora.


Dari penelitian yang pernah dikerjakan, dipercaya jika penduduk asli Blora disebut dengan Wong Kalang. Disebut-sebut jika Harry Widianto yang merupakan peneliti arkeologi menyebutkan jika Wong Kalang ini sudah ada bahkan sebelum masa kerajaan. Tentang siapa Harry Widianto, bisa dilihat di sini.


bekal_kubur_kalang

Bekal kubur yang dipercaya sebagai ritual Wong Kalang, sebutan peneliti untuk orang asli Blora. Tersimpan dalam etalase di Rumah Artefak Blora dalam kondisi terawat sangat baik.

Di rumah ini juga tersimpan batu arca sapi yang disebut dengan Arca Nandin. Peneliti dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) memperkirakan arca ini merupakan alat peribadatan Hindu di masa klasik Hindu-Budha, abad sebelum adanya kerajaan Majapahit di Jawa Timur.


Arca ini ditemukan di Dukuh Uwung, Desa Mendenrejo, Kecamatan Menden, Kabupaten Blora pada 2017. Berawal dari pendataan situs cagar budaya, ditemukanlah arca ini yang selanjutnya dilaporkan dan diserahkan ke Pemerintah Kabupaten Blora.


Arca ini terawat dengan baik, tersimpan dalam etalase kaca yang melindunginya dari debu.

arca-nandin

Dari penelitian tim arkeologi, benda-benda yang tersimpan dalam rumah artefak ini ada yang usianya telah ratusan ribu tahun. Ada yang 300 ribu tahun lalu, dan yang tertua disebut-sebut berusia 700 ribu tahun.

fosil_tulang_belakang_paus

Inilah benda purbakala yang disebut-sebut sebagai benda yang berusia paling tua, yakni: fosil tulang belakang paus purbakala. Fosil ini ditemukan di Desa kapuan di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora pada tahun 2019.

Disebutkan jika temuan benda tersebut tidak disengaja. Berawal dari warga yang menggali septic tank, lalu ditemukannya benda tersebut yang kemudian dilaporkan ke Pemerintah Kabupaten. Ditindak-lanjuti tim gabungan ekskavasi Pemerintah Kabupaten Blora dan BPSMP, kini benda purbakala tersebut terawat dengan baik di rumah artefak.

kepala_banteng-purba

Lebih muda dari fosil paus purba, ada banteng purba yang disimpan di rumah artefak ini. Peneliti memperkirakan usia kepala banteng purba ini 300-an ribu tahun yang lalu. Ditemukan di Desa Getas, Kecamatan Cepu pada tahun 2019.

Rumah artefak yang banyak diharap menjadi cikal bakal berdirinya museum di Blora bisa menjadi alternatif wisata edukasi bagi masyarakat Blora maupun luar Blora. Tingginya animo masyarakat, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa menandakan adanya kerinduan adanya tempat wisata yang menambah wawasan dan pengetahuan sejarah daerahnya. ***

Lanjut Jelajah & Plesiran